KULON PROGO – Puncak Peringatan hari ulang Tahun (HUT) Kalurahan Sentolo digelar dengan upacara di lapangan SD N 2 Sentolo, Jumat (13/3/2026). Bukan sekadar seremoni biasa, namun menjadi potret menjadi tradisi dan budaya.
Lurah Sentolo, Teguh, mengatakan, warga melestarikan budaya tidak melulu soal mementaskan tarian di atas panggung. Budaya, menurutnya, adalah “napas” yang harus dihirup dalam kehidupan sehari-hari.
“Sopan santun, semangat gotong royong, dan rasa kekeluargaan adalah budaya yang sebenarnya. Itulah warisan leluhur yang harus kita jaga agar Sentolo tetap menjadi rumah yang nyaman bagi kita semua,” kata Teguh.
Artikel Terkait
Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko mengapresiasi kerukunan warga Sentolo dan mengingatkan kembali filosofi Jawa yang mendalam: “Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa segala kekuatan atau angkara murka akan luluh oleh kelembutan hati dan niat yang tulus.
“Seorang pemimpin dan masyarakatnya harus berjalan beriringan dengan niat Memayu Hayuning Bawana, mempercantik indahnya dunia melalui kedamaian,” ujar Ambar.
Ambar berharap Sentolo menjadi wilayah yang “adem, ayem, tentrem, gemah ripah loh jinawi,” sebuah tatanan masyarakat yang makmur dan sejahtera lahir batin.
Dalam peringatan ini juga dilakukan rayahan gunungan hasil bumi. Begitu upacara usai, warga dengan antusias berebut aneka sayuran, buah-buahan, dan hasil bumi yang tersusun rapi.
Bagi warga Sentolo, mendapatkan bagian dari gunungan bukan sekadar soal mendapatkan bahan makanan, melainkan simbolisasi mengambil berkah (ngalap berkah) dan rasa syukur atas rezeki yang melimpah selama setahun terakhir.



















