Belajar Sejarah Perjuangan Rakyat Bali, DPRD DIY Ingin Sinau Pancasila Diperkuat

Sayoto Ashwan

Anggota Komisi A DPRD DIY mengunjungi Museum perjuangan Rakyat Bali, Selasa (24/2/2025). (foto: kuntadi)

YOGYAKARTA – Komisi A DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengunjungi Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Monumen Bajra Sandi) dalam program Sinau Pancasila. Para wakil rakyat ini ingin program ini diperkuat dengan nilai sejarah.  

Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, mengatakan, penanaman nilai-nilai Pancasila tidak cukup hanya melalui teori. Namun perlu dihidupkan lewat pembelajaran sejarah yang konkret dan kontekstual.

“Sinau Pancasila paling tepat dimulai dari belajar sejarah agar semangat kebangsaan tumbuh. Pemda DIY perlu lebih serius melaksanakan Sinau Pancasila secara formal, nonformal, maupun informal agar nasionalisme semakin kokoh di tengah dinamika global,” ujar Eko, Selasa (24/6/2025).

Menurutnya, Monumen Bajra Sandhi yang berdiri di atas lahan 13,8 hektare bukan sekadar bangunan monumental. Bangunan ini menjadi ruang edukasi yang menghadirkan perjalanan panjang perjuangan rakyat Bali.

Konsep serupa dapat diadaptasi di DIY, mengingat Yogyakarta memiliki peran historis besar dalam perjalanan bangsa, termasuk saat menjadi ibu kota republik. Pemda DIY memiliki Peraturan Daerah tentang Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan.

“Regulasi tersebut perlu diperkuat dengan kehadiran museum atau ruang belajar sejarah yang mampu menjadi pusat edukasi generasi muda,” katanya.

Anggota Komisi A, Radjut Sukasworo, menilai Yogyakarta memiliki banyak situs sejarah yang tersebar, namun perlu dirangkum dalam satu narasi utuh. Keberadaan museum sejarah terpadu akan membantu sinkronisasi nilai perjuangan dengan penguatan Pancasila.

Sementara itu, Akhid Nuryati menyoroti simbolisme arsitektur Monumen Bajra Sandhi yang sarat makna. Tangga berjumlah 17, delapan tiang utama, serta 45 panorama yang tergambar di dalamnya merepresentasikan tanggal Proklamasi 17 Agustus 1945. Simbol-simbol tersebut, menurutnya, menjadi pengingat kuat akan semangat kemerdekaan dan nilai Pancasila yang harus terus dihidupkan.

“Monumen ini juga dilengkapi kebijakan ramah lingkungan di kawasan monumen, termasuk penerapan jamuan tanpa plastik. Integrasi edukasi sejarah dan kepedulian lingkungan dinilai sebagai contoh baik pembangunan ruang publik yang berkelanjutan,” kata Akhid.

Rekomendasi Untuk Anda

News

BPBD Kulon Progo Catat Ada 30 Titik Bencana Longsor dan Pohon Tumbang

KULON PROGO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPB) Kulon Progo mencatat ada 30 titik bencana alam yang terjadi dalam sepekan ...

News

Kantor Kementerian Agama Kulon Progo Terbitkan Buku Sang Pejuang

KULON PROGO – Jurnalis Kantor Kemenag Kulon Progo berhasil menerbitkan buku antologi puisi berjudul Sang Pejuang. Buku tersebut berisi kumpulan ...

News

Mita Kartikasari, Siswa MTs N 4 Kulon Progo Raih Medali Emas Indonesia Sains Olimpiads 2026

KULON PROGO – Siswi kelas VIIIA MTs N 4 Kulon Progo Mita Kartikasari sukses meraih medali emas dalam ajang Indonesia ...

Tokoh

Haedar Nashir Ajak Umat Islam Sikapi Perbedaan Puasa dengan Cerdas

YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir mengajak umat Islam untuk menyikapi perbedaan awal puasa Ramadhan 1447 ...

News

Kuatkan Harmoni, Penyuluh Lintas Agama Kulon Progo Kunjungi Masjid dan Kapel di Banjaroyo

KULON PROGO – Penyuluh lintas agama Kementerian Agama Kulon Progo mengunjungi Masjid Al-Mutaqin dan Kapel St maria Ratu Rosario yang ...

Pariwisata

Longsor di Nanggulan, Jebol Dinding Rumah Warga

KULON PROGO – Dinding Rumah milik Sarwidi warga Gayam, Gayam, Banyuroto, Nanggulan hancur diterjang material longsoran tanah, Senin (15/2/2026) malam. ...

Tinggalkan komentar