KULON PROGO – Sebanyak 383 jemaah haji asal Kulon Progo akan berangkat ke tanah suci Makah untuk melaksanakan ibadah Haji. Dinas Kesehatan Kulon Progo mencatat ada 261 jemaah di antaranya masuk kategori berisiko tinggi dan memerlukan pendampingan medis penuh.
Kepala Dinkes Kulon Progo, Susilaningsih, mengatakan mayoritas jemaah resuji tinggi ini memiliki riwayat penyakit degeneratif yang memerlukan konsumsi obat secara rutin. Beberapa di antaranya menderita hipertensi, penyakit jantung dan diabetes melitus.
“Mayoritas jemaah berusia lanjut dan mereka harus menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan lingkungan yang dapat menurunkan daya tahan,” katanya.
Artikel Terkait
Meski begitu, Dinas Kesehatan memastikan para jemaah tetap bisa melaksanakan ibadan dan rukun wajib haji. Kuncinya mereka harus kedisiplinan mengonsumsi obat rutin. Petugas kesehatan pendamping juga akan melakukan pengawasan ketat
Saat ini para jemaah sudah mendapatkan vaksin meningitis, polio dan Covid-19. Dukungan fisik berupa kursi roda juga telah disiapkan bagi jemaah yang memiliki keterbatasan mobilitas.
“Sebelum diberangkatkan mereka akan menjalani tes kesehatan bekerja sama dengan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Klas II Yogyakarta,” katanya.
Plt Kepala BKK Klas II Yogyakarta, Tatok Redjadi, menegaskan bahwa pemeriksaan ini bersifat kontinyu. Mereka akan melakukan pemantauan sebelum keberangkatan, selama berada di Mekah dan kembali ke tanah air.
“Mereka yang berangkat harus benar-benar dalam kondisi stabil demi keamanan bersama,” tegasnya.
Jemaah Kulon Progo terbagi dalam dua kelompok terbang (Kloter). Kloter 1 yang terdiri dari 354 jemaah (gabungan dengan petugas) dijadwalkan akan bertolak menuju Tanah Suci pada 21 April 2026 mendatang. Mereka akan diberangkatkan dari Bandara YIA.



















