KULON PROGO – Tim Sekretariat Militer Presiden (Setmilpres) Kementerian Sekretariat Negara melaksanakan verifikasi lapangan terkait usulan penganugerahan Tanda Kehormatan Satyalancana Kepariwisataan dari Presiden Republik Indonesia untuk Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara di Desa Wisata Sidorejo, Lendah, Kulon Progo, Jumat (09/10/2026).
Verifikasi lapangan ini menjadi tahapan akhir penilaian setelah Kementerian Pariwisata mengusulkan GKR Bendara atas kepeloporannya dalam membangkitkan pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta pascapandemi, khususnya melalui pengembangan wellness tourism atau pariwisata kebugaran berbasis kearifan lokal. Salah satu inovasi kultural yang menjadi pilar pengusulan tersebut adalah pemanfaatan naskah kuno Kitab Pawukon berusia lebih dari tiga abad yang kini menjadi jantung Museum Pawukon Sidorejo dan penggerak ekonomi warga setempat.
Kepala Bagian Verifikasi dan Administrasi Biro Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Setmilpres, Kombes Pol Yukti Inarni, menjelaskan bahwa penelaahan dilakukan secara ketat dan transparan. Dari sembilan nama awal yang diusulkan Kementerian Pariwisata, hanya tiga kandidat terbaik nasional yang lolos ke tahap verifikasi lapangan. Evaluasi tersebut mendalami lima pilar utama, yaitu orisinalitas gagasan, kebermanfaatan bagi masyarakat, kolaborasi antar pemangku kepentingan, manajemen risiko, serta validasi data rekam jejak pengabdian minimal lima tahun.
Artikel Terkait
Dalam kesempatan tersebut, GKR Bendara memaparkan bahwa pariwisata berkelanjutan harus bertumpu pada pelestarian tradisi dan pemberdayaan masyarakat sebagai pemilik sah kebudayaan. Melalui konsep wellness tourism, pariwisata Yogyakarta diarahkan untuk menjadi tempat memulihkan raga dan menenangkan jiwa. Ia berharap proses verifikasi ini dapat berbuah manis sebagai penanda bahwa kerja keras bersama masyarakat telah memberikan dampak nyata.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo,Joko Mursito menegaskan bahwa kebudayaan dan pariwisata merupakan dua sisi mata uang yang saling menguatkan. Menurutnya, perawatan tradisi yang dilakukan secara konsisten tidak hanya menjaga identitas bangsa, tetapi juga memberikan ruang penghidupan bermakna serta menularkan semangat pelestarian bagi seluruh desa wisata dan kelurahan budaya di Kulon Progo.



















