KULON PROGO – Lebih dari 41.000 pelajar dari sekitar 490 sekolah di Kabupaten Kulon Progo, bersama partisipasi SMP Negeri 2 Sidamulih Pangandaran, mengikuti agenda Muqodaman Gema Al Quran Gerakan Kulon Progo Mengaji (GKM) pada Jumat (16/10/2026). Kegiatan akbar ini digelar sebagai kado spiritual memperingati Hari Jadi ke-75 Kabupaten Kulon Progo.
Acara berlangsung secara hybrid berpusat di Aula MAN 2 Kulon Progo serta ditayangkan via Zoom dan kanal YouTube @kulonprogo TV. Sejumlah pejabat daerah turut hadir, di antaranya Kepala Balai Dikmen Kulon Progo Heru Santosa, Kepala Disdikpora Kulon Progo Nur Wahyudi, Ketua PGRI Kulon Progo Agus Sutik Dwiartanta, perwakilan OPD terkait, dan perwakilan Baznas Kulon Progo.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, membuka program strategis GKM tersebut di hadapan para tokoh agama, guru, dan ribuan pelajar. Dalam arahannya, Agung menegaskan pentingnya keseimbangan antara pembangunan fisik dan spiritualitas daerah, salah satunya melalui pembiasaan membaca Al Quran setiap hari di sekolah maupun instansi pemerintah.
Artikel Terkait
“Dengan meningkatnya kualitas spiritualitas masyarakat, kita membawa perubahan yang cukup berarti karena manusia senantiasa ingat kepada hubungannya dengan Allah SWT serta berhati-hati dalam menjaga hubungan antarsesama,” ujar Agung.
Ia menambahkan, pembentukan karakter berbasis nilai spiritual sejak dini menjadi fondasi penting bagi generasi muda agar siap menjadi pemimpin di masa depan. Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga mengajak para pelajar berdiri untuk menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada para guru.
Sementara itu, Ketua GKM, Ilyasin, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ikhtiar berkelanjutan untuk membumikan Al Quran di Bumi Binangun. Pihaknya menargetkan agenda Muqodaman dapat rutin dilaksanakan setiap tahun seirama dengan peringatan hari jadi kabupaten, serta memberi dampak positif bagi daerah lain.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kulon Progo, HM Wahib Jamil, mengingatkan bahwa kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga dari penguatan fondasi moral dan spiritual masyarakatnya.



















