YOGYAKARTA – Komisi A DPRD DIY mengunjungi situs sejarah pengasingan Bung Karno di Bengkulu sebagai langkah strategis untuk menggali nilai-nilai ideologis. Melalui Napak tilas ini DPRD DIY ingin bertransformasi menjadi kebijakan-kebijakan pemerintahan yang progresif dan berpihak pada rakyat di Yogyakarta.
Dalam kunjungan tersebut, para wakil rakyat Yogyakarta membedah kembali sejarah tahun 1938–1942, saat Bung Karno dipindahkan dari Ende ke Bengkulu dalam kondisi pascasakit keras. Di bawah tekanan restriksi ketat Belanda, Bung Karno justru membuktikan bahwa birokrasi penindasan tidak mampu menghentikan produktivitasnya dalam menulis, mendesain masjid, dan mengonsolidasikan pemuda.
Wakil Ketua Komisi A DPRD DIY, Syarief Guska Laksana, menyatakan bahwa heroisme dan konsistensi Bung Karno di ruang terbatas adalah tamparan sekaligus motivasi bagi aparatur pemerintahan modern yang kini difasilitasi penuh oleh negara.
Artikel Terkait
“Semangat-semangat inilah yang akan kami teladani untuk tetap menjaga Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Kami ingin esensi perjuangan tanpa batas dari Bengkulu ini masuk ke dalam tata kerja pemerintahan kami,” tegas Guska.
Melalui peninjauan langsung ke Rumah Pengasingan Bung Karno dan Rumah Ibu Fatmawati yang masih terawat asli, Komisi A DPRD DIY berharap orientasi kerja para pembuat kebijakan di Yogyakarta dapat lebih tangguh, visioner, dan tidak mudah menyerah oleh batasan anggaran maupun regulasi dalam menyejahterakan masyarakat.



















