Saatnya Peternak Sapi Perah Naik Kelas Lewat Hilirisasi Susu

Sayoto Ashwan

[addtoany]

Susu dan produk turunannya (foto: ilustrasi)

YOGYAKARTA – Kesejahteraan peternak sapi perah domestik dinilai mustahil melonjak signifikan jika mereka terus-menerus terjebak sebagai penyedia bahan baku mentah. Guna mendobrak kebuntuan ekonomi tersebut, peternak harus berani mendobrak batas dan terjun langsung ke sektor hilir, mulai dari pengolahan, pengemasan, hingga strategi pemasaran digital produk turunan susu yang bernilai jual tinggi.

Dosen Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Satyaguna Rakhmatulloh, menegaskan bahwa selama ini posisi tawar peternak lokal sangat lemah karena berada di rantai paling buncit. Keuntungan terbesar justru dinikmati oleh industri hilir yang menguasai teknologi dan merek.

“Peternak sapi perah harus menjadi subjek utama hilirisasi, bukan sekadar pemasok bahan baku. Dengan keterlibatan dalam pengolahan dan pemasaran produk susu, peternak dapat menikmati nilai tambah yang selama ini mengalir ke pihak lain,” ujar Satyaguna, Rabu (17/6/2026).

Menurut Satyaguna, sekadar menggenjot produksi susu segar tanpa memperkuat posisi tawar peternak hanya akan membuat pasar jenuh tanpa dampak kesejahteraan yang nyata. Solusinya adalah diversifikasi produk. Susu segar peternak harus mulai diolah secara bertahap sesuai kapasitas kelompok menjadi produk turunan. Mulai dari susu pasteurisasi, Yoghurt dan es krim,Puding susu dan keju, hingga produk pangan fungsional.

Meski demikian, hilirisasi tidak akan berjalan instan hanya dengan membagikan mesin pengolah. Satyaguna mengkritik keras program-program pemberdayaan masa lalu yang hanya bersifat seremonial. Peternak membutuhkan pendampingan berkelanjutan yang menyentuh aspek teknis, managemen dan legalitas hingga pemasaran modern.

Peta jalan baru persusuan ini tidak bisa digarap sendirian. Diperlukan kolaborasi erat (Pentahelix”) antara pemerintah, perguruan tinggi, koperasi, dan dunia usaha untuk membangun ekosistem yang adil.

Jika hilirisasi berbasis kelompok ternak ini sukses berjalan, peternak sapi perah Indonesia tidak lagi sekadar menjadi penonton di industri sendiri, melainkan bertransformasi menjadi pelaku usaha mandiri yang kompetitif sekaligus menjadi pilar utama kemandirian pangan nasional.

Rekomendasi Untuk Anda

Ekbis

Muscab BPC Gapensi Kulon Progo X, Kolaborasi dan Mutu Harus Ditingkatkan

KULON PROGO – Badan Pimpinan Cabang (BPC) Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kabupaten Kulon Progo menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) ...

Ekbis

Konsisten Sejak 2013, HS Surya Group Berangkatkan 156 Karyawan Umrah Gratis

MAGELANG – HS Surya Group kembali memberangkatkan 156 karyawan untuk melaksanakan ibadah umrah di Tanah Suci Makkah, Senin (3/8/2026). Program ...

Olahraga

461 Atlet Bertanding di Kejurda III NPCI DIY 2026 Kulon Progo

KULON PROGO – Sebanyak 461 atlet disabilitas dari lima kabupaten/kota se-DIY bertanding dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda) III National Paralympic Committee ...

News

Putus Rantai Kemiskinan, 359 Siswa Sekolah Rakyat Kulon Progo Mulai Jalani MPLS Gratis

KULON PROGO – Langkah nyata memutus mata rantai kemiskinan dan mencegah anak putus sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta resmi dimulai. ...

News

Cegah Warga Terjerat Pinjol Ilegal, Mahasiswa KKN UGM Gelar Sosialisasi Literasi Keuangan

KULON PROGO Mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) mengambil langkah nyata untuk melindungi warga Kalurahan Giripeni, Wates, Kulon Progo, dari ...

News

Puluhan Tahun Kering, 30 Hektare Lahan Pertanian di Temon Hanya Andalkan Hujan dan Pompa

KULON PROGO – Sekitar 30 hektare lahan pertanian di bagian selatan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), Kulon Progo meliputi kawasan ...

Tinggalkan komentar