PURWAKARTA – Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Purwakarta mengajari anak-anak SD di Pereng, Sendangsari, Pengasih, Kulon Progo berkreasi. Selain untuk meningkatkan minat baca, anak-anak diajak membuat celengan agar tidak kecanduan bermain handphone.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), selama dua hari, mulai Rabu (8/7/2026) dan Kamis (9/7/2026) tim turun langsung di masyarakat. Mereka mendampingi generasi muda dengan melakukan peningkatan literasi baca, finansial, dan kelola lingkungan.
Ketua Prodi PGSD UPI Kampus Purwakarta, Neneng Sri Wulan, mengungkapkan bahwa kegiatan ini berangkat dari keresahan mendalam terhadap rendahnya kemampuan membaca anak-anak saat ini.
Artikel Terkait
“Hasil penelitian dalam dan luar negeri menunjukkan perkembangan kemampuan membaca anak kita tidak signifikan. Lewat PKM Tri Dharma Perguruan Tinggi ini, kami ingin memantik kembali rasa suka membaca pada anak-anak,” ujar Neneng.
Tidak hanya soal buku, anak-anak dan orang tua juga dikenalkan pada literasi finansial dan lingkungan yang sering kali dianggap asing. Uniknya, edukasi ini langsung dipraktikkan secara nyata. Sebanyak 30 siswa SD yang hadir diajak menyulap barang-barang bekas menjadi celengan kreatif. Lewat celengan buatan sendiri ini, mereka diajarkan filosofi dan manfaat menabung sejak dini sekaligus menjaga lingkungan dari sampah.
Pemilihan lokasi PKM ini sengaja menyasar wilayah yang belum pernah tersentuh usulan program serupa, dengan harapan bisa memberikan kontribusi manfaat yang langsung terasa bagi warga.
Langkah edukatif ini pun disambut hangat oleh pihak setempat. Lurah Suhardi, menyampaikan rasa terima kasihnya karena menganggap budaya positif anak-anak zaman dulu kini sudah bergeser drastis.
“Sekarang budaya menabung pada anak-anak itu hampir tidak ada. Begitu juga dengan kepedulian lingkungan dan pengelolaan sampah dari tingkat keluarga,” keluh Suhardi.
Suhardi juga tidak menampik bahwa minat baca warganya memang memprihatinkan. Pihak kelurahan bahkan sudah berinisiatif menempatkan perpustakaan persis di sebelah ruang pelayanan masyarakat agar mudah diakses, namun pemanfaatannya belum maksimal karena anak-anak lebih memilih gawai.
“Waktu belajar anak-anak habis untuk HP. Ini tantangan zaman teknologi. Karena itu, kehadiran tim UPI dua hari ini sangat membantu kami untuk mengedukasi orang tua agar lebih disiplin menerapkan jam belajar masyarakat di rumah,” pungkas Suhardi.



















