KULON PROGO – Perkampungan Terbah khususnya yang ada di belakang SMP N 5 Wates telah menjadi langganan banjir selama 20 tahun terakhir. Kondisi ini menjadikan wilayah ini kumuh yang tak kunjung terselesaikan.
Perkampungan ini sebenarnya berada di kawasan perkotaan Wates yang hanya berjarak sekitar 300 Meter dari Alun-alun Wates ataupun rumah dinas bupati. Sedangkan dari Pemkab Kulon Progo mecapai 500 meter.
“Sudah lama jadi langganan banjir,” kata Tokoh masyarakat Terbah, Sujud Triyanto saat menerima kunjungan Komisi C DPRD DIY, Kamis (5/3/2026).
Artikel Terkait
Menurut dia, wilayah yang rutin terendam menjadi titik kumpul air kiriman dari wilayah Pengasih. Masalah kian pelik karena saluran drainase dari Alun-alun Wates dialirkan ke arah utara menuju Terbah yang sistem pembuangannya sudah tidak mampu menampung debit air.
Diakuinya kondisi ini tidak berlangsung lama. Begitu hujan reda, maka air akan surut kembali. Ketika alira air dari Pengasih turun, secara otomatis, air dari selatan juga akan masuk ke saluran drainase.
“Mungkin kalau saluran di Tunjungan dibuat besar, wilayah sini tidak banjir,” katanya.
Anggota DPRD DIY Lilik Syaiful Ahmad mengaku prihatin dengan predikat wilayah kumuh di kawasan ini. Sebab wilayah ini sudah masuk dalam kawasan perkotaan.
“Kami akan memutus mata rantai banjir. Sinergitas antarinstansi diperlukan dalam penanganan,” katanya.
Program ini sudah dikawal dan anggota Komisi C bersama BBWSO dan Dinas PUPKP juga sudah melakukan sidak bersama dengan Wabup Kulonprogo Ambar Purwoko.



















